Pengarang : Hadi S. Khuli

Cinta adalah anugerah terindah dari Sang Ilahi. Sebagai muslim atau muslimah, sewajibnya mensyukuri anugerah cinta dengan cara-cara elegan, cantik, dan beriman. Sayang, Wardah, putri kiai pengasuh pesantren kesohor kealimannya, gagal mengelola gelegar cintanya pada Fatih, santri pengarang kreatif dan sekaligus anak asuh keluarga kiai tersebut. Bahkan, dengan emosi membara, Wardah berjuang untuk membuktikan pada Fatih bahwa tak sepatutnya Fatih menolak cintanya karena ia putri kiai besar, cantik dan berpengaruh. Sayang, Wardah kebablasan. Ia terjerembab ke jurang kelam penuh duri maksiat. Dan, siapakah yang mampu menyembunyikan aroma-aroma bau? Peristiwa buruk yang dialami Wardah membuat Fatih merasa sangat bersalah pada kiai yang amat dicintai dan dihormatinya. Tapi, sang kiai menolak untuk menikahkan Wardah dengan Fatih karena janin di rahim Wardah bukanlah anak Fatih. Kata sang kiai,Setiap orang berhak mencintai dan dicintai bukan karena keterpaksaan atau belas kasihan, tapi keikhlasan.
Dan Dian, semenjak bertemu dengan Fatih, tepatnya ketika pertama kali ia membaca novelnya, lalu secara kebetulan bertemu dan merawatnya, ada yang bergejolak dalam hati Dian. Entah apa. Yang dapat ia rasakan adalah getaran yang membuat seluruh persendian dan syarafnya tidak bisa lepas dari sosok Fatih. Dian sebenarnya tidak ingin cinta yang lain, tetapi cinta yang ia rasakan ini seakan memang telah memilihnya untuk menanggung semua akibatnya, walaupun Dian sendiri tidak berdaya menghadapi semua ini. Benarkah ini cinta sejati? Cinta sejati yang selalu membuahkan keberanian untuk bertindak, berkata dan juga berniat.
Sebuah tasbih adalah sebuah kehidupan. Berawal dan berakhir di titik yang sama. Bukan tasbih namanya, jika hanya terdiri dari satu butir. Bukan kehidupan namanya jika hanya satu dimensi. Kehidupan akan sempurna dan indah bila telah melewati serangkaian untaian butiran suka, duka, derita, bahagia, gembira, gagal, sukses, pasang, surut. Dan untuk melewati semua itu, dibutuhkan keberanian, kesabaran, kekuatan, dan perjuangan untuk terus meniti, berjalan, mendaki. Sebab, seperti tasbih yang melingkar, kehidupan pun demikian. Ke mana pun akan pergi dan berlari, tetap masih dalam lingkaran takdir Allah. Dari-Nya, kehidupan dimulai dan kepada-Nya akan berakhir.
Dengan hati yang dipenuhi cinta dan kedamaian, Dian meraih tasbih pemberian Fatih dan diciumnya dengan hati yang sepenuh-penuhnya serta berbisik; ”Tasbih, jadilah saksi cintaku”
p
Rabbi….
Jika cintaku Kau ciptakan untuk dia
Tabahkan hatinyaTeguhkan imannyaSucikan cintanyaLembutkan rindunya
Rabbi….
Jika hatiku Kau ciptakan untuk dia
Penuhi hatinya dengan Kasih-Mu
Terangi langkahnya dengan Nur-Mu
Bisikkan kedamaian dalam kegalauan
Temani dia dalam kesepian
Rabbi….
Kutitipkan cintaku pada-Mu untuknya
Resapkan rinduku pada rindunya
Mekarkan cintaku dan hidupnya
Dalam cinta-Mu
Sebab, sungguh aku mencintainya karena-MU