Idh@’s Love

The Way of Love (Jalan Cinta Rumi) August 13, 2008

Filed under: Novel — ida @ 4:50 am

By : Nigel Watts

”Jalan para nabi kita adalah jalan cinta.
Kita adalah anak-anak cinta, dan cinta adalah ibu kita”

p
Jalan Cinta Rumi menggambarkan persahabatan luar biasa, mulai dari pertemuan Rumi dan Syams melewati saat-saat pemujaan yang mendalam sampai akibat tragis yang menyedihkan karena keterpisahan yang harus mereka alami dan kehidupan Rumi berubah total setelah bertemu Syams.

p
Inilah salah satu kutipan syair dalam cerita tersebut :

p
Aku berserah di alas kakiMu, ya Allah
Belaian kasih atau hantaman palu
Akan kusyukuri, ya Allah, sebagai sentuhan-Mu
Emas tempaan untuk mahkota raja
Atau besi untuk kekang keledai
Bisa Dia gunakan untuk membentukku seturut kehendakNya
Aku ini tiada, aku ini bukan apa-apa lagi
Seperti apa pun Dia ingin membentukku, itulah yang terjadi
Aku akan mati dalam suka
Aku akan larut dalam kepayang
Hanya saat larut itulah nyata

 

Kasidah-Kasidah Cinta August 9, 2008

Filed under: Novel — ida @ 2:41 am

Pengarang : Muhammad Muhyidin

Novel ini menceritakan tentang percintaan Nugroho, putra ketua desa Randualas dan Wiji putri ketua desa Tempelsari. Selain wajah Wiji yang sangat cantik, ia juga mempunyai pekerti dan ilmu agama yang baik sehingga membuat Nugroho sangat terpikat.
Nugroho pun mencoba berjumpa dengan Wiji dan mendengar segala pengajaran tentang agama yang selama ini gelap baginya. Wiji pun berusaha membimbing Nugroho yang berniat kembali ke jalan yang benar. Irama kasidah-kasidah cinta beralun dengan merdu. Namun pertemuan mereka disalah sangka oleh penduduk kedua-dua desa yang selama ini telah bermusuhan. Perkelahian antara kedua desa memuncak. Wiji dan Nugroho pula tercampak jauh dari desa masing-masing. Dengan bantuan temannya, mereka pergi meninggalkan desa tersebut dan menikah. Namun perperangan kedua desa tersebut belum berakhir juga.

p
Dengan rasa tanggungjawab yang tinggi, Wiji dan Nugroho pun kembali ke desa tersebut untuk mendamaikan perperangan yang akhirnya meninggal dipuncak Pergunungan Kendeng yang disusul Wiji kemudian setelah melahirkan seorang putra. Akhirnya mereka sadar bahwa selama ini Nugroho dan Wiji telah berupaya mendamaikan peperangan dengan mengorbankan diri mereka. Sirnalah sudah api kebencian, kemarahan dan dendam yang selama ini telah menguasai mereka. Dan untuk mengenang kematian mereka, warga kedua dukuh memberi nama putranya Lanang Randusari yang nantinya akan menjadi penerus dukuh yang akan diberi nama Randusari.

p
(Novel ini juga adalah hadiah Ultahku kemaren dari k’mina. Thanks banget ya ka… :)   )

 

Mukzijat Cinta July 8, 2008

Filed under: Novel — ida @ 2:59 am

Pengarang : Muhammad Masykur AR Said

P

“Aku mencintaimu bukan karena kamu tidak mempunyai kekurangan. Untuk mendapatkanmu, aku rela mengorbankan kehidupan dan cita-citaku, karena aku tahu hanya bila bersamamulah akan lahir kehidupan baru dan cita-cita baru yang lebih mulia dan menentramkan jiwa…” kata Syamsul kepada Fatmah, istrinya.

p

Cinta Fatmah kepada Syamsul, suaminya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri. Tak pernah mengeluh meski rintangan yang dihadapi adalah bebatuan padas serta kerikil-kerikil tajam yang sewaktu-waktu bisa saja melukai hatinya. Dia mengabdi karena cinta, bekerja karena cinta, serta melakukan segalanya karena cinta dan kasih sayang yang begitu besar dalam hatinya.

Novel religius ini berisi tentang kekuatan hati seseorang yang memilih hidup dengan hanya berpegang teguh pada kebersihan hati dan cinta sejati. Ketulusan, ketabahan, kesabaran seorang istri disaat menjaga suaminya yang sedang terbaring tak berdaya di rumah sakit di Samarinda. Serta pengorbanan Afdhal yang dengan ikhlasnya membantu Syamsul, sahabatnya yang sedang sakit untuk mencari Siti Zubaedah di Malaysia, yaitu seorang wanita yang pernah menjadi penghuni hati sahabatnya. Perjalanan Afdhal untuk mencari Siti Zubaedah pun dibantu oleh Amal Hayati yang secara tak sengaja bertemu di Malaysia yang akhirnya mampu menggantikan posisi istrinya yang telah meninggal.

Pertemuan mereka dengan Siti Zubaedah yang begitu mengharukan akhirnya membuat keikhlasan wanita itu untuk memaafkan seseorang yang pernah membuatnya harus menunggu dan tidak bisa menjadi pendamping hidupnya.

Segala kekuatan dan mukjizat Allah dalam doa-doa yang keluar melalui perasaan cinta yang mendalam serta saat mereka menemukan kekuatan luar biasa yang mampu menentramkan jiwa mereka, kiranya inilah yang mereka sebut Mukjizat Cinta.

p

Hidup ini adalah sebuah pemberian, dan untuk menikmatinya kita harus banyak memberi. Sebesar harapan kita kepada Tuhan, sebesar itu pulalah kita harus memberi kepada sesama manusia.p

p

(Novel ini adalah hadiah Ultahku kemaren dari k’mina. Thanks banget ya ka… :) )

 

“Cinta yang Terlambat” June 20, 2008

Filed under: Novel — ida @ 2:15 am

Pengarang : Dr. Ikram Abidi

“Sebagian orang berdoa
agar menikah dengan laki-laki yang mereka cintai
Doaku sedikit berbeda :
Aku dengan rendah hati memohon kepada Tuhan
agar aku mencintai laki-laki yang aku nikahi”

p

Aariz Ali adalah seorang pemuda Pakistan yang tampan, kaya dan terdidik. Ia sedang jatuh cinta pada seorang gadis bernama Komal, yaitu seorang gadis yang cantik, pintar, modern dan berasal dari keluarga pengusaha yang kaya pula. Aariz sangat terobsesi untuk menjadikannya istri. Namun sayangnya, Komal berasal dari mazhab yang berbeda sehingga hubungan mereka ditentang keras oleh ibu Aariz.
Untuk itu ibunda Aariz memaksa anaknya menikah dengan seorang gadis kenalan keluarganya, bernama Zeest Zehra. Walaupun Zeest merupakan gadis desa yang lugu dan piatu sejak kecil tapi ia cerdas dan terpelajar serta sangat cantik, tapi menutupi kecantikkannya dengan Hijab.
Pernikahan pun terlaksana, walaupun begitu Aariz tidak pernah menganggap Zeest sebagai istrinya. Hubungan Aariz dan Komal tetap berlanjut. Perkawinan mereka bener-bener sangat menyiksa Zeest lahir batin, namun atas penghormatan terakhirnya kepada almarhum ayahnya, dia tetap menjadi seorang istri yang taat dan patuh. Setiap hari hanya kegilaan dan kebencian yang suaminya berikan sepanjang hidup dengannya, bahkan mereka tidak pernah berhubungan suami istri sebagaimana layaknya pasangan yang lain.
Tapi Zeest terus bersabar, bahkan saat Aariz menuntut untuk menikah dengan Komal, Zeest pun merelakan, dan berjanji akan membantu memintakan restu dari Ibu Aariz,
p
“Sebagai balasan, aku hanya memutuhkan satu hal,” Zeest menambahkan.
“Apakah itu?” tanya Aariz
“Kamu tidak menceraikanku.” lanjut Zeest.
“Aku tidak ingin memutuskan namaku dari namamu, yang aku butuhkan, aku inginkan, hanyalah …namamu, dibubuhkan pada namaku.”
“Aku akan meninggalkan rumahmu, dan aku jamin, bahwa aku tidak akan pernah kembali lagi dalam kehidupanmu yang bahagia, sungguh, kau dan istrimu tidak akan bertemu lagi denganku, tapi jangan ceraikan aku, tolonglah..”

p

Sejak itu Zeest pergi meninggalkan Aariz. Dankarena peristiwa tertentu Komal yang cemburu juga meninggalkan Aariz dan tidak pernah kembali. Keadaan ini membuat Aariz menderita tekanan batin, padahal ia juga baru saja kehilangan kedua orang tuanya dalam suatu musibah.
Karena stress Aariz masuk rumah sakit jiwa. Dua tahun direhabilitasi sampai sembuh total. Dan itu tidak lepas dari jasa seorang laki-laki yang amat dihormatinya, Paman Maulana.
Setelah sembuh, ia menyadari bahwa gadis yang paling cocok dan didambakannya adalah zeest, gadis desa yang dipilihkan ibunya untuknya. Gadis tabah, suci dan siap memberikan cinta sepenuhnya kepadanya. Namun dimanakah Aariz harus mencarinya? Bukankah ia sendiri yang telah mengusirnya 2 tahun yang lalu?

)))p

“Ada banyak bintang di langit, hanya beberapa yang cukup terang untuk bisa dilihat. Di antara bintang yang kamu abaikan itu adalah sebuah bintang yang siap untuk menyinarimu selamanya, meski pandanganmu tetap ke tempat lain”
p

“Suatu masa akan datang kala kita harus berhenti mencintai seseorang bukan karena orang itu telah berhenti mencintai kita tetapi karena kita telah mengetahui bahwa mereka akan lebih bahagia bila kita lepaskan”

 

Derap-Derap Tasbih June 17, 2008

Filed under: Novel — ida @ 1:04 am

Pengarang : Hadi S. Khuli

Cinta adalah anugerah terindah dari Sang Ilahi. Sebagai muslim atau muslimah, sewajibnya mensyukuri anugerah cinta dengan cara-cara elegan, cantik, dan beriman. Sayang, Wardah, putri kiai pengasuh pesantren kesohor kealimannya, gagal mengelola gelegar cintanya pada Fatih, santri pengarang kreatif dan sekaligus anak asuh keluarga kiai tersebut. Bahkan, dengan emosi membara, Wardah berjuang untuk membuktikan pada Fatih bahwa tak sepatutnya Fatih menolak cintanya karena ia putri kiai besar, cantik dan berpengaruh. Sayang, Wardah kebablasan. Ia terjerembab ke jurang kelam penuh duri maksiat. Dan, siapakah yang mampu menyembunyikan aroma-aroma bau? Peristiwa buruk yang dialami Wardah membuat Fatih merasa sangat bersalah pada kiai yang amat dicintai dan dihormatinya. Tapi, sang kiai menolak untuk menikahkan Wardah dengan Fatih karena janin di rahim Wardah bukanlah anak Fatih. Kata sang kiai,Setiap orang berhak mencintai dan dicintai bukan karena keterpaksaan atau belas kasihan, tapi keikhlasan.

Dan Dian, semenjak bertemu dengan Fatih, tepatnya ketika pertama kali ia membaca novelnya, lalu secara kebetulan bertemu dan merawatnya, ada yang bergejolak dalam hati Dian. Entah apa. Yang dapat ia rasakan adalah getaran yang membuat seluruh persendian dan syarafnya tidak bisa lepas dari sosok Fatih. Dian sebenarnya tidak ingin cinta yang lain, tetapi cinta yang ia rasakan ini seakan memang telah memilihnya untuk menanggung semua akibatnya, walaupun Dian sendiri tidak berdaya menghadapi semua ini. Benarkah ini cinta sejati? Cinta sejati yang selalu membuahkan keberanian untuk bertindak, berkata dan juga berniat.

Sebuah tasbih adalah sebuah kehidupan. Berawal dan berakhir di titik yang sama. Bukan tasbih namanya, jika hanya terdiri dari satu butir. Bukan kehidupan namanya jika hanya satu dimensi. Kehidupan akan sempurna dan indah bila telah melewati serangkaian untaian butiran suka, duka, derita, bahagia, gembira, gagal, sukses, pasang, surut. Dan untuk melewati semua itu, dibutuhkan keberanian, kesabaran, kekuatan, dan perjuangan untuk terus meniti, berjalan, mendaki. Sebab, seperti tasbih yang melingkar, kehidupan pun demikian. Ke mana pun akan pergi dan berlari, tetap masih dalam lingkaran takdir Allah. Dari-Nya, kehidupan dimulai dan kepada-Nya akan berakhir.

Dengan hati yang dipenuhi cinta dan kedamaian, Dian meraih tasbih pemberian Fatih dan diciumnya dengan hati yang sepenuh-penuhnya serta berbisik; ”Tasbih, jadilah saksi cintaku”

p

Rabbi….

Jika cintaku Kau ciptakan untuk dia

Tabahkan hatinyaTeguhkan imannyaSucikan cintanyaLembutkan rindunya

Rabbi….

Jika hatiku Kau ciptakan untuk dia

Penuhi hatinya dengan Kasih-Mu

Terangi langkahnya dengan Nur-Mu

Bisikkan kedamaian dalam kegalauan

Temani dia dalam kesepian

Rabbi….

Kutitipkan cintaku pada-Mu untuknya

Resapkan rinduku pada rindunya

Mekarkan cintaku dan hidupnya

Dalam cinta-Mu

Sebab, sungguh aku mencintainya karena-MU

 

Dunia Tanpa Warna May 22, 2008

Filed under: Novel — ida @ 1:18 am

Pengarang : Mira W

Sepuluh tahun menikah, rahim Nidia tetap kosong. Segala cara telah ditempuh. Namun bayi yang didambakannya belum datang juga. Suaminya rela dia menjalani inseminasi buatan. Tapi Nidia tidak setuju dan memilih adopsi.

Bayi pertama yang mereka inginkan, telah diambil pasangan lain.

Bayi kedua hampir menyeret mereka ke pengadilan, karena ibu kandung bayi itu kembali menggugat anaknya.

Bayi yang ketiga, Mutia, tak pernah mengharapkan apa-apa. Karena sejak lahir dia telah ditakdirkan hidup tersisih dalam dunianya yang gelap. Dirumah Nidia, Mutia telah menentukan dunianya yang baru. Dunia Tanpa Warna, tapi penuh dengan kehangatan dan kasih sayang. Kehadiran Mutia membuka kehangatan dalam tawa riang Nidia yang sedang kegelian menyaksikan ulah Mutia yang lucu. Karena buta atau tidak, dia tetap selucu dan selincah anak-anak lain.

DUNIA TANPA WARNA

Satu dari tujuh novelet Mira W. yang dikemas dalam Kumpulan Novelet

 

Lapaz Cinta February 6, 2008

Filed under: Novel — ida @ 2:59 am

lapaz-cinta.jpeg

Pengarang   : Sinta Yudisia

Penerbit       : Mizan

Halaman       : 269 hal

Zen dan Seyla merupakan dua sejoli yang sangat serasi. Kecerdasan Seyla dan kedewasaan Zen menjadi jembatan bagaimana menemukan solusi. Namun tak jarang mereka pun berantem, berselisih, bertengkar seperti pasangan lainnya, tapi segala perbedaan dapat dijembatani dan segala pertengkaran dapat diatasi. Dan ketika keduanya merasa makin sepakat dan sehati, sebuah cincin melingkar di jari manis Seyla sebagai tanda kesungguhan hati Zen terhadapnya. Bagi Seyla, Zen adalah seorang sahabat, kakak dan orang yang paling istimewa di hatinya, selain mama dan kakak satu-satunya yang sangat menyayanginya.

Ketika Seyla menunaikan umrah di Makkah, ia pun selalu berdoa untuk kekasihnya. Namun sekembalinya ia di tanah air, harapan dan doanya di Raudhah Asy-Syarifah ternyata tak terkabulkan. Zen yang diharapkan menjadi suaminya kelak, lebih memilih Lila, yaitu seorang dokter, putri sahabat baik ibunya yang banyak membantu dan merawat ketika ibunya sakit dan zen pun tak sanggup untuk menolak keinginan ibunya. Kenyataan ini membuat hati Seyla hancur berkeping-keping. Seyla tak cukup hanya meratap dan menangis, ia marah besar yang merasa telah dibohongi dan dikhianati Zen. Ia pun marah pada Lila yang dianggapnya telah merebut pacarnya.

Demi menata kembali hatinya, Seyla pun memutuskan hijrah ke kota Groningen. Di kota yang jauh lebih modern inilah, Seyla menemukan bermacam cinta dalam berbagai rupa. Hingga Seyla terseret arus pesona seorang pangeran bermata teduh bernama Karl Van Veldhuisen. Namun kenyataan pahit kembali menghadang cinta Seyla, Karl ternyata telah bertunangan dengan Constance Martina du Barry.

Dengan berbagai macam perjalanan dan hari-hari yang dilaluinya, akhirnya Seyla pun semakin mengerti bahwa ia tidak akan mungkin menjalin hubungan dengan seorang pangeran Belanda yang hidupnya telah diatur oleh kerajaan dan dia pun akan menikah dengan putri Martina. Dan saat Seyla menunaikan ibadah haji, ia semakin yakin tentang hatinya yang suatu saat akan menemukan kebahagiaan. Bahkan rasa kehilangan dan kebenciannya pada Zen dan Lila pun tak pernah tertanam lagi dihatinya dan ia pun berdoa untuk kebahagiaan mereka.

 

Kitab Cinta Yusuf Zulaikha January 25, 2008

Filed under: Novel — ida @ 1:01 am

kitab-cinta-yusuf-zulaikha.jpg

 

    • Penulis : Taufiqqurahman al-Azizy

Penerbit : DIVA Press

Halaman : 503 hal

-

 -

”Saya takut menjadi musyrik. Saya takut menyekutukan Cinta saya kepada Allah karena cinta saya kepada Yusuf. Saya rindu untuk bisa dibelai Allah, tetapi hati saya dipenuhi pula kerinduan kepada Yusuf. Apakah saya sudah menjadi manusia musyrik, ya ustadz? Tolonglah saya! Demi Allah, saya tidak kuasa untuk memilih satu cinta dari cinta dan kerinduan ini. Rindu saya untuk menggapai Wajah Allah seiring rindu saya menggapai wajah Yusuf…” 

Rintihan Zulaikha merobek-robek angkasa malam. Cinta dan kerinduan kepada Yusuf demikian mendalam. Inilah kitab cinta sang wanita muslimah kepada Yusuf, seorang pemuda muslim yang diberkati wajah yang bercahaya. Akankah takdir Illahi SWT, membimbingnya menyatukan jiwanya dengan jiwa Yusuf, sekalipun jalan cinta yang harus dilalui oleh sepasang insan ini demikian berliku? Cinta, keimanan, kerinduan, keindahan, mengamuk bersama nyala api kecemburuan, iri, kebencian, kekecewaan, kepedihan, nafsu dan amarah. Sangat mendera iman…..

 

Nafsul Muthmainnah January 9, 2008

Filed under: Novel — ida @ 3:01 am

 nafsul-muthmainnah.jpg

      (Novel Spiritual Rahasia Cinta dan Hati)

- Pengarang : Anfika Noer

- Penerbit    : DIVA Press, Yogyakarta

- Tebal         : 408 halaman

 -
Menjaga hati itu tak mudah, Sungguh,
Kalaupun bisa, belum tentu dengan dia.
Kalaupun kami telah begitu percaya diri untuk mampu,
Bukankah masih ada orang lain dengan prasangkanya?
Ingin kukatakan pada semua orang bahwa
‘tak ada apa pun antara kami’
Tak bisakah mulut bicara demikian, bila hati berkata lain?
Lalu, siapa yang mampu menjamin bisa menjaga hati banyak orang?
Ya, begitulah rahasia cinta dan hati.
Sungguh, seringkali kita kolaps bukan karena sakit,
Bukan karena miskin, tetapi karena sesuatu yang besar
telah terjadi pada lautan hati kita…
 -
 -

Bagaimanakah menjaga hati ini ketika cinta datang dengan tiba2, bahkan tanpa disadari kehadirannya…? Inilah yang dialami oleh Hasbi dan Yumna, tokoh utama dalam novel ini, dua orang yang terbiasa dengan kesungguhan menjaga hati disela-sela aktivitas kampus yang digelutinya. Bukan hal yang mudah bagi mereka ketika ’rasa’ itu hadir direlung hati.

Kejujuran itu seringkali menyakitkan. Tapi, memilih untuk munafik juga akan menyiksa perasaan. Separuh hati Yumna telah tersita untuk masalah ini. Sesak nafasnya bila ia terus memaksakan diri untuk memendamnya. Hatinya tak bisa berbohong lagi, semua ini telah jelas, tampak dari tutur kata dan perilaku. Cukup sudah satu nama itu telah mengisi hampir seluruh ruang dihatinya. Hingga, ketika keimanannya menguncup dan kesadarannya terbangun. Yumna sedang berupaya keras mencari penawar atas rasa yang tak sepantasnya ada sekarang.

 -

”Kalau saja aku tak memberikan perhatian lebih padanya, tentu ia tak berpikir lebih terhadapku. Kalau saja ia tak memberi perhatian lebih padaku, tentu aku tak berharap banyak padanya. Kalau saja ia bisa membatasi komunikasi, tentu aku bisa menjaga hati. Kalau saja aku bisa menjaga sikap, tentu ia akan bisa menjaga perilaku. Bukankah tak ada yang benar diantara kami? Sedemikian kuatkah ikatan hati kami?” bisik hati Yumna.

 

Apakah ini adalah sebuah akhir dari kisah hatinya bersama Hasbi? Atau, akan bersambung lagi. Semua tergantung dari ending Pelabuhan Terakhir yang akan Hasbi putuskan. Namun, apapun yang terjadi, sudah saatnya ia lebih bijak dalam berpijak. Kalaupun harus menata ulang secara total, maka akan dimulai dari sekarang. Yumna kembali melangkah seiring luruhnya air yang membasahi wajah. Baginya, berbagai rasa yang mengaduk hatinya selama ini telah berhasil mendewasakannya. Emosi, harapan dan kenangan, semua ingin bisa dipetik pelajaran. Tapi, salahkah bila ia tetap punya harap? Semoga ending yang akan Hasbi putuskan, tak bertolak belakang dengan harapannya. Seperti apapun keputusan Hasbi, tetap ada hikmah didalamnya. Harapan tentang Hasbi, tetap merekah dihatinya. Semoga tak ada yang salah dengan harapan dan perasaan itu.

 

 

Sejuta kisah telah habiskan tinta
Berentet cerita keringkan kantung mata
Akankah sia belaka
Ataukah berakhir di dermaga
Arungi bahtera dengan mahligai
Epilog cinta yang dinanti
 

Pudarnya Pesona Cleopatra October 22, 2007

Filed under: Novel — ida @ 2:41 am

(By : Habbiburrahman El Shirazy)

cleopatra8.jpg

Sejak ada dalan kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal. Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu. Dan mereka berjanji apabila dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan.
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.

Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama.
Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.
Impianku hanya menginginkan seorang gadis Mesir sebagai teman hidup. Dengan kecantikan gadis-gadis Mesir selalu menjadikanku terlalu obsesi, sehingga suatu malam aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra yang mempunyai anak saudara yang kebetulan dalam mimpinya itu seorang artis Mesir yang sungguh menawan dan popular.

Namun Raihana, perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku dimata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku.

Kemudian Raihana hamil. Dan memasuki usia kehamilan Raihana bulan keenam, Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan.
Kemudian aku pun mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Dalam pelatihan aku berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. Lelaki ini telah menceritakan pengalaman tentang perkawinannya dengan seorang gadis Mesir yang membuat dia rasa alangkah baiknya mengawini seorang gadis Indonesia yg sama cara hidupnya.

Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bulan aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan.
Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luarbiasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angin sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihana tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan airmataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap airmataku.
Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis.
” Mana Raihana Bu?”
Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang
Telah terjadi.
” Raihana istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya”.
“Ada apa dengan dia”.
“Dia telah tiada”.
Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira. Dunia tiba-tiba gelap semua.

Mutiara Hikmah :

Kecantikan wanita bukanlah segala-galanya tanpa diiringi agama yang kuat karena istri yang solehah adalah sebaik-baiknya perhiasan dunia.