Pengarang : Muhammad Muhyidin
Novel ini menceritakan tentang percintaan Nugroho, putra ketua desa Randualas dan Wiji putri ketua desa Tempelsari. Selain wajah Wiji yang sangat cantik, ia juga mempunyai pekerti dan ilmu agama yang baik sehingga membuat Nugroho sangat terpikat.
Nugroho pun mencoba berjumpa dengan Wiji dan mendengar segala pengajaran tentang agama yang selama ini gelap baginya. Wiji pun berusaha membimbing Nugroho yang berniat kembali ke jalan yang benar. Irama kasidah-kasidah cinta beralun dengan merdu. Namun pertemuan mereka disalah sangka oleh penduduk kedua-dua desa yang selama ini telah bermusuhan. Perkelahian antara kedua desa memuncak. Wiji dan Nugroho pula tercampak jauh dari desa masing-masing. Dengan bantuan temannya, mereka pergi meninggalkan desa tersebut dan menikah. Namun perperangan kedua desa tersebut belum berakhir juga.
p
Dengan rasa tanggungjawab yang tinggi, Wiji dan Nugroho pun kembali ke desa tersebut untuk mendamaikan perperangan yang akhirnya meninggal dipuncak Pergunungan Kendeng yang disusul Wiji kemudian setelah melahirkan seorang putra. Akhirnya mereka sadar bahwa selama ini Nugroho dan Wiji telah berupaya mendamaikan peperangan dengan mengorbankan diri mereka. Sirnalah sudah api kebencian, kemarahan dan dendam yang selama ini telah menguasai mereka. Dan untuk mengenang kematian mereka, warga kedua dukuh memberi nama putranya Lanang Randusari yang nantinya akan menjadi penerus dukuh yang akan diberi nama Randusari.
p
(Novel ini juga adalah hadiah Ultahku kemaren dari k’mina. Thanks banget ya ka…
)
