Idh@’s Love

Tidak ada Salahnya Menangis August 21, 2008

Filed under: Renungan — ida @ 3:59 am

Menangis…??? Tidak ada salahnya kita menangis kalau memang dengan menangis itu kita sebagai manusia menjadi sadar, sadar akan kelemahan-kelemahan diri kita, sadar akan kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan dan saat tidak ada lagi yang sanggup menolong dari kejatuhan selain Allah Swt. Kesadaran yang membawa manfaat dunia dan akhirat. Bukankah keadaan hati kita sebagai manusia tidak pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya. Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan gembira, namun saat dilanda musibah tidak sedikit orang yang berputus asa bahkan kadang berpaling dari kebenaran.

p

Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan petanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya. Rasulullah Saw pun menitiskan air matanya ketika kematian anaknya, Ibrahim.
Bukankah di antara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Rabbnya dalam bersendirian kemudian dia menitiskan air mata? Seorang mukmin sejati akan menangis dalam bersendirian di kala berdoa kepada Tuhannya. Sadar betapa berat tugas hidup yang harus dipikulnya di dunia ini.
p
Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran.

Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada. Semoga kita juga selalu diingatkan pada hari ketika manusia banyak menangis dan sedikit tertawa kerana dosa-dosa yang diperbuatnya selama di dunia.

p
Jadi apa salahnya kita menangis?
p
“Air mata yang telah jatuh
Membasahi bumi
Takkan sanggup menghapus penyesalanPenyesalan yang kini ada
Jadi tak berarti
Karena waktu yang bengis terus pergiMenangislah….
Bila harus menangis
Karena kita semua manusiaManusia bisa terluka
Manusia pasti menangis
Dan manusia pun bisa mengambil hikmahDibalik segala duka
Tersimpan hikmah
Yang bisa kita petik pelajaran

Dibalik segala suka
Tersimpan hikmah
Yang kan mungkin bisa jadi cobaan”

p
(Lirik lagu ”Air Mata”, Dewa)

p

Sebagian sumber diambil dari sini

 

Merdeka… August 15, 2008

Filed under: Renungan — ida @ 2:43 am

p

”HIDUPLAH INDONESIA RAYA…”

p

Tak terasa 2 hari lagi kita akan memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-63 tahun. Semoga arti kemerdekaan ini dapat kita jadikan sebagai bahan renungan dan introspeksi diri. Apakah Indonesia sudah merdeka?? Apakah kita sudah merasakan kemerdekaan yang sebenarnya?? Jawabannya berpulang kepada diri kita masing-masing. Hati kecil kita pasti bisa menjawab. Seseorang mungkin telah merasakan dan menikmati arti kemerdekaan yang sebenarnya, namun mungkin juga ada orang hanya menikmati kemerdekaan semu yang tanpa mengetahui apakah nanti hidupnya akan merasakan hari-hari merdeka itu tanpa penderitaan lagi?? Banyak disekitar kita yang berjuang melawan kerasnya hidup demi mendapatkan sesuap nasi serta untuk menghidupi keluarganya, sedangkan disisi lain korupsi semakin bertumbuh kembang.
Memang bangsa kita sudah merdeka dan bebas dari penjajahan. Namun apakah penjajahan ekonomi Indonesia juga sudah merdeka ???

p

SEMOGA BANGSA KITA INI DAPAT SEGERA BANGKIT DARI KETERPURUKAN…

p

(Gambar diambil dari sini)

 

The Way of Love (Jalan Cinta Rumi) August 13, 2008

Filed under: Novel — ida @ 4:50 am

By : Nigel Watts

”Jalan para nabi kita adalah jalan cinta.
Kita adalah anak-anak cinta, dan cinta adalah ibu kita”

p
Jalan Cinta Rumi menggambarkan persahabatan luar biasa, mulai dari pertemuan Rumi dan Syams melewati saat-saat pemujaan yang mendalam sampai akibat tragis yang menyedihkan karena keterpisahan yang harus mereka alami dan kehidupan Rumi berubah total setelah bertemu Syams.

p
Inilah salah satu kutipan syair dalam cerita tersebut :

p
Aku berserah di alas kakiMu, ya Allah
Belaian kasih atau hantaman palu
Akan kusyukuri, ya Allah, sebagai sentuhan-Mu
Emas tempaan untuk mahkota raja
Atau besi untuk kekang keledai
Bisa Dia gunakan untuk membentukku seturut kehendakNya
Aku ini tiada, aku ini bukan apa-apa lagi
Seperti apa pun Dia ingin membentukku, itulah yang terjadi
Aku akan mati dalam suka
Aku akan larut dalam kepayang
Hanya saat larut itulah nyata

 

Kasidah-Kasidah Cinta August 9, 2008

Filed under: Novel — ida @ 2:41 am

Pengarang : Muhammad Muhyidin

Novel ini menceritakan tentang percintaan Nugroho, putra ketua desa Randualas dan Wiji putri ketua desa Tempelsari. Selain wajah Wiji yang sangat cantik, ia juga mempunyai pekerti dan ilmu agama yang baik sehingga membuat Nugroho sangat terpikat.
Nugroho pun mencoba berjumpa dengan Wiji dan mendengar segala pengajaran tentang agama yang selama ini gelap baginya. Wiji pun berusaha membimbing Nugroho yang berniat kembali ke jalan yang benar. Irama kasidah-kasidah cinta beralun dengan merdu. Namun pertemuan mereka disalah sangka oleh penduduk kedua-dua desa yang selama ini telah bermusuhan. Perkelahian antara kedua desa memuncak. Wiji dan Nugroho pula tercampak jauh dari desa masing-masing. Dengan bantuan temannya, mereka pergi meninggalkan desa tersebut dan menikah. Namun perperangan kedua desa tersebut belum berakhir juga.

p
Dengan rasa tanggungjawab yang tinggi, Wiji dan Nugroho pun kembali ke desa tersebut untuk mendamaikan perperangan yang akhirnya meninggal dipuncak Pergunungan Kendeng yang disusul Wiji kemudian setelah melahirkan seorang putra. Akhirnya mereka sadar bahwa selama ini Nugroho dan Wiji telah berupaya mendamaikan peperangan dengan mengorbankan diri mereka. Sirnalah sudah api kebencian, kemarahan dan dendam yang selama ini telah menguasai mereka. Dan untuk mengenang kematian mereka, warga kedua dukuh memberi nama putranya Lanang Randusari yang nantinya akan menjadi penerus dukuh yang akan diberi nama Randusari.

p
(Novel ini juga adalah hadiah Ultahku kemaren dari k’mina. Thanks banget ya ka… :)   )