Idh@’s Love

Anakku Mutiaraku February 25, 2008

Filed under: My Baby — ida @ 4:44 am

gambar005.jpgTepat pada hari senin tanggal 26 pebruari 2007 (8 Safar 1428 Hijriah) jam 10.12 Wita di Rumah Sakit Umum Ulin Banjarmasin kau lahir menatap dunia ini.

Raihan Noor Muttaqin

Kau adalah Rahmat dan sekaligus titipan Allah untuk abah dan mamamu. Kau mengubah kehidupan kami menjadi lebih berarti dan memberikan sentuhan yang berbeda. Terima kasih Allah….Engkau telah memberikan titipan-Mu kepada kami yang merupakan anugerah yang sangat agung dan nikmat yang sangat besar sekaligus ujian juga bagi kita.
raihan-mandi.jpgSayang….hari demi hari telah kau lalui hingga tak terasa usiamu sekarang sudah menginjak satu tahun. Dan tak ada kebahagiaan yang paling bermakna ketika kami menyaksikan perkembanganmu dari detik ke detik. Dulu kau hanya mampu menangis, akan tetapi sekarang kau telah belajar untuk mengenali orang-orang di sekitarmu, kau telah belajar berbicara, kau telah belajar berjalan. Kala menatap mata beningmu saat dalam pangkuan, kami begitu damai, amarah dan rasa letih pun langsung sirna. raihan-tiarap.jpgKadang kau pun melontarkan kata-kata atau teriakan yang lucu yang membuat orang tuamu tertawa akan kepolosan dan keluguanmu. Keberadaanmu dalam kehidupan kami juga banyak mengajarkan kepada kami tentang kasih sayang, kesabaran, kedamaian dan memaafkan. Saat merasakan pelukan hangat dan belaian lembutmu, kami benar-benar dapat merasakan cinta tulus yang mendamaikan jiwa. Segala polah dan tingkah lakumu dan kadang lagi rewel, kami berusaha menghadapinya lebih sabar. Dan inilah yang benar-benar mengajarkan pada kami arti sebuah kesabaran.
raihan-berkereta.jpgBesok, tak terasa sudah 1 tahun umur Raihan dan tepatnya sudah 1 tahun ia menjadi matahari yang menyinari keluarga kami.

SELAMAT ULANG TAHUN Sayang…….

Tidak ada yang bisa orangtuamu berikan kepadamu di hari ulang tahunmu ini, kecuali kasih sayang kami yang tulus kepadamu. Kecupan abah dan mama di keningmu sebagai ungkapan Selamat Ulang Tahun untukmu sayang.

Buah Hatiku…..Jadilah kau matahari yang selalu menerangi langkah kami, jadilah bunga yang selalu memberikanraihan-merangkak.jpg keharuman disetiap mimpi kami, jadilah cinta sejati yang selalu membuat warna indah dalam hari-hari kami, jadilah kau harapan yang selalu membuat jiwa kami semakin bermakna, jadilah kau masa depan yang berguna yang akan menjadi kebanggaan kami. Jangan pernah padam pelitaku, sambutlah hidup meski penuh tantangan dan tegarlah meski raihan-lg-makan.jpgpenuh cobaan. Orang tuamu tak akan pernah berhenti berdoa untukmu dan menyayangimu dengan segala cinta dan kehangatan.

Ya Rahman, ya Rahim….
Indahkan kehidupan kami dengan kesalehan anak kami, panjangkanlah usianya, sehatkan badannya, cerdaskan akalnya, indahkan akhlak dan agamanya, sejahterakan jiwa dan raganya, jadikanlah ia orang yang baik dan bertakwa, yang punya pandangan dan pendengaran dan taat pada-Mu.raihan-lg-bermain.jpg Gabungkanlah ia bersama orang-orang yang bertakwa kepada-Mu, yang mencintai Nabi-Mu, keluarganya yang suci dan sahabatnya yang mulia, yang membenci dan memusihi musuh-musuh-Mu, yang berbakti kepada orangtua dan bermanfaat bagi bangsa dan yang berkhidmat kepada sesama manusia.
Ya Allah…..jadikanlah ia menjadi orang yang selalu pandai bersyukur hanya pada-Mu.
Amin Ya Rabal Alamin….

 

Lapaz Cinta February 6, 2008

Filed under: Novel — ida @ 2:59 am

lapaz-cinta.jpeg

Pengarang   : Sinta Yudisia

Penerbit       : Mizan

Halaman       : 269 hal

Zen dan Seyla merupakan dua sejoli yang sangat serasi. Kecerdasan Seyla dan kedewasaan Zen menjadi jembatan bagaimana menemukan solusi. Namun tak jarang mereka pun berantem, berselisih, bertengkar seperti pasangan lainnya, tapi segala perbedaan dapat dijembatani dan segala pertengkaran dapat diatasi. Dan ketika keduanya merasa makin sepakat dan sehati, sebuah cincin melingkar di jari manis Seyla sebagai tanda kesungguhan hati Zen terhadapnya. Bagi Seyla, Zen adalah seorang sahabat, kakak dan orang yang paling istimewa di hatinya, selain mama dan kakak satu-satunya yang sangat menyayanginya.

Ketika Seyla menunaikan umrah di Makkah, ia pun selalu berdoa untuk kekasihnya. Namun sekembalinya ia di tanah air, harapan dan doanya di Raudhah Asy-Syarifah ternyata tak terkabulkan. Zen yang diharapkan menjadi suaminya kelak, lebih memilih Lila, yaitu seorang dokter, putri sahabat baik ibunya yang banyak membantu dan merawat ketika ibunya sakit dan zen pun tak sanggup untuk menolak keinginan ibunya. Kenyataan ini membuat hati Seyla hancur berkeping-keping. Seyla tak cukup hanya meratap dan menangis, ia marah besar yang merasa telah dibohongi dan dikhianati Zen. Ia pun marah pada Lila yang dianggapnya telah merebut pacarnya.

Demi menata kembali hatinya, Seyla pun memutuskan hijrah ke kota Groningen. Di kota yang jauh lebih modern inilah, Seyla menemukan bermacam cinta dalam berbagai rupa. Hingga Seyla terseret arus pesona seorang pangeran bermata teduh bernama Karl Van Veldhuisen. Namun kenyataan pahit kembali menghadang cinta Seyla, Karl ternyata telah bertunangan dengan Constance Martina du Barry.

Dengan berbagai macam perjalanan dan hari-hari yang dilaluinya, akhirnya Seyla pun semakin mengerti bahwa ia tidak akan mungkin menjalin hubungan dengan seorang pangeran Belanda yang hidupnya telah diatur oleh kerajaan dan dia pun akan menikah dengan putri Martina. Dan saat Seyla menunaikan ibadah haji, ia semakin yakin tentang hatinya yang suatu saat akan menemukan kebahagiaan. Bahkan rasa kehilangan dan kebenciannya pada Zen dan Lila pun tak pernah tertanam lagi dihatinya dan ia pun berdoa untuk kebahagiaan mereka.