![]()
- Pengarang : Anfika Noer
- Penerbit : DIVA Press, Yogyakarta
- Tebal : 408 halaman
Bagaimanakah menjaga hati ini ketika cinta datang dengan tiba2, bahkan tanpa disadari kehadirannya…? Inilah yang dialami oleh Hasbi dan Yumna, tokoh utama dalam novel ini, dua orang yang terbiasa dengan kesungguhan menjaga hati disela-sela aktivitas kampus yang digelutinya. Bukan hal yang mudah bagi mereka ketika ’rasa’ itu hadir direlung hati.
Kejujuran itu seringkali menyakitkan. Tapi, memilih untuk munafik juga akan menyiksa perasaan. Separuh hati Yumna telah tersita untuk masalah ini. Sesak nafasnya bila ia terus memaksakan diri untuk memendamnya. Hatinya tak bisa berbohong lagi, semua ini telah jelas, tampak dari tutur kata dan perilaku. Cukup sudah satu nama itu telah mengisi hampir seluruh ruang dihatinya. Hingga, ketika keimanannya menguncup dan kesadarannya terbangun. Yumna sedang berupaya keras mencari penawar atas rasa yang tak sepantasnya ada sekarang.
-
”Kalau saja aku tak memberikan perhatian lebih padanya, tentu ia tak berpikir lebih terhadapku. Kalau saja ia tak memberi perhatian lebih padaku, tentu aku tak berharap banyak padanya. Kalau saja ia bisa membatasi komunikasi, tentu aku bisa menjaga hati. Kalau saja aku bisa menjaga sikap, tentu ia akan bisa menjaga perilaku. Bukankah tak ada yang benar diantara kami? Sedemikian kuatkah ikatan hati kami?” bisik hati Yumna.
Apakah ini adalah sebuah akhir dari kisah hatinya bersama Hasbi? Atau, akan bersambung lagi. Semua tergantung dari ending Pelabuhan Terakhir yang akan Hasbi putuskan. Namun, apapun yang terjadi, sudah saatnya ia lebih bijak dalam berpijak. Kalaupun harus menata ulang secara total, maka akan dimulai dari sekarang. Yumna kembali melangkah seiring luruhnya air yang membasahi wajah. Baginya, berbagai rasa yang mengaduk hatinya selama ini telah berhasil mendewasakannya. Emosi, harapan dan kenangan, semua ingin bisa dipetik pelajaran. Tapi, salahkah bila ia tetap punya harap? Semoga ending yang akan Hasbi putuskan, tak bertolak belakang dengan harapannya. Seperti apapun keputusan Hasbi, tetap ada hikmah didalamnya. Harapan tentang Hasbi, tetap merekah dihatinya. Semoga tak ada yang salah dengan harapan dan perasaan itu.
doeh bahasamu da…. ga kuat deh….