Idh@’s Love

Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga November 21, 2007

Filed under: Buku — ida @ 3:46 am

(Pengarang : Annis Matta )

 

Mempertahankan dan merawat rasa cinta

sesungguhnya jauh lebih sulit dari sekedar menumbuhkannya

 

bunga1.jpeg

“Cinta itu bunga, bunga yang tumbuh mekar dalam taman hati kita. Taman itu adalah kebenaran. Apa yang menumbuhkan, mengembangkan dan memekarkan bunga itu adalah air dan matahari. Air dan matahari adalah kebaikan. Air memberikan kesejukan dan ketenangan. Tapi, matahari memberinya gelora kehidupan Cinta, dengan begitu, merupakan dinamika yang bergulir sadar. Di atas latar wadah perasaan kita…”

 

Maka begitulah seharusnya kita mencintai, menyejukkan, menenangkan, namun juga menggelorakan. Dan semua makna itu terangkum dalam kata ini : menghidupkan.
Bila kita ingin mencintai dengan kuat, maka kita harus mampu memperhatikan dengan baik, menerima apa adanya dengan tulus, lalu berusaha mengembangkannya semaksimal mungkin. Kemudian merawat dan menjaganya dengan sabar. Itulah rangkaian kerja besar para pecinta : Pengenalan, penerimaan, pengembangan dan perawatan.

Pengenalan yang baik harus di sertai dengan penerimaan yang utuh. Kita harus mampu menerimanya apa adanya. Apa yang sering menghambat dalam proses penerimaan total itu adalah pengenalan yang tidak utuh atau obsesi yang berlebihan terhadap fisik. Kita tidak akan pernah dapat mencintai seseorang secara kuat dan dalam kecuali jika anda dapat menerimanya apa adanya. Dan ini tidak selalu berarti bahwa kita menyukai kekurangan dan kelemahannya. Ini lebih berarti bahwa kelemahan dan kekurangnnya itu bukan kondisi akhir kepribadian dan selalu ada peluang untuk berubah dan berkembang. Dengan perasaan itulah seorang ibu melihat bayinya, apakah yang Ia harap dari bayi kecil itu? Ketika Ia merawatnya,menjaganya dan menumbuhkannya. Apakah Ia yakin bahwa kelak anak itu akan membalas kebaikan-kebaikannya? Tidak, semua yang ada dalam jiwanya adalah keyakinan bahwa bayi ini punya peluang untuk berubah dan berkembang. Dan karenanya Ia menyimpan harapan besar dalam hatinya bahwa kelak hari-hari jugalah yang akan menjadikan segalanya lebih baik.

Penerimaan positif itulah yang mengantar kita kepada mencintai selanjutnya : pengembangan. Pada mulanya seorang wanita itu adalah kuncup yang tertutup, ketika memasuki rumah tangga, memasuki wilayah kekuasaan seorang suami, menjadi seorang istri, menjadi seorang Ibu, seorang suamilah yang bertugas membuka kelopak kuncup itu, meniupnya perlahan agar Ia mekar jadi Bunga. Seorang suamilah yang harus menyirami Bunga itu dengan air kebaikan , membuka semua pintu hati baginya, agar ia dapat menikmati cahaya matahari yang akan memberinya gelora kehidupan. Hanya dengan kebaikanlah bunga-bunga cinta bersemi dan ungkapan “ Aku Cinta Kamu” boleh jadi akan kehilangan makna ketika dikelilingi perlakuan yang tidak simpatik dan mengembangkan. Apa yang harus seorang suami berikan kepada istrinya adalah peluang untuk berkembang, keberanian menyaksikan perkembangannya tanpa harus merasa bahwa superioritas suami terganggu . Ini tidak berarti suami harus memberi semua yang ia senangi tapi berikanlah apa yang ia butuhkan.

Tetapi setiap perkembangan harus tetap berjalan dalam keseimbangan dan inilah fungsi perawatan dari rasa cinta. Tidak boleh ada perkembangan yang mengganggu posisi dan komunikasi.

Hidup ini adalah simponi yang kita mainkan dengan indah. Maka duduklah sejenak bersama istri kita, tatap matanya lamat-lamat, dengarkan suara batinnya, getaran nuraninya, dan diam-diam bertanyalah pada diri sendiri, Apakah ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama kita? Mungkin suatu saat ia akan mengucapkan Puisi Iqbal tentang gurunya : dan nafas cintanya meniup kuncupku maka Ia mekar jadi Bunga.

Ada banyak diantara kita yang mengharap terlalu banyak dari pasangan dan inilah celah yang menyisakan kemungkinan kecewa yang juga berlebihan. Bahwa kita mengharap kadar kualitas kepribadian tertentu dari pasangan kita, itu natural. Tapi jika harapan itu melampaui batas kemampuannya, kita harus segera berpikir bahwa boleh jadi harapan dan kekecewaan yang juga dirasakan pasangan kita terhadap kita sendiri. Harus ada keseimbangan antara harapan yang wajar dan kesiapan untuk kecewa yang juga wajar.

Kesabaran dan kebesaran jiwa seharusnya membuat kita sanggup menutupi kekecewaan itu dengan senyum, agar hati dan perasaan pasangan kita dapat selalu terjaga. Kesabaran selalu memudahkan jiwa memandang masalah secara jernih, dan ini secara perlahan akan mengantar kita menemukan banyak hal yang selama ini tersembunyi dibalik satu masalah.

 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal sesuatu itu baik bagimu.
Boleh jadi (pula) kamu mencintai sesuatu, padahal sesuatu itu buruk bagimu.
Dan Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
(Al-Baqarah : 216)

 

Rautan Kayu November 17, 2007

Filed under: Renungan — ida @ 5:10 am

”Jika anak hidup dalam kecaman, ia belajar mengutuk
Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi
Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi rendah diri
Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa bersalah
Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menghormati
Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi
Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan
Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin
Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan,
ia belajar mencari cinta di seluruh dunia”

 

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan matanya yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah.
Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. ”Kita harus lakukan sesuatu,” ujar sang suami. ”Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk Pak Tua ini.”
Lalu, suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.
Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada air mata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Meski tak ada gugatan darinya. Tiap kali nasi yang dia suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.
Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. ”Kamu sedang membuat apa?” Anaknya menjawab, ”Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.
(Dikutip dari majalah Paras, edisi Maret 2005)

Renungan

Anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Semoga aku pribadi mampu memberikan ”bekal & tabungan terbaik” untuk anak-anak kami kelak….Amin.

 

Winter Sonata November 5, 2007

Filed under: Drama — ida @ 3:47 am

winter-sonata.jpegPemain utama :

- bae-yong-jun sebagai Kang Joon-sang/Lee Ming-hyeong
- choi-ji-woo sebagai Jung Yoo-jin

Kang Joon-Sang adalah seorang pria yang cerdas namun mempunyai sifat sangat tertutup dan suka menyendiri. Ia berusaha untuk menyelidiki siapa ayah kandungnya. Disekolah ia berkenalan dengan Jung Yoo-Jin, seorang gadis yang sangat periang. Yoo-jin mempunyai seorang teman dekat bernama Kim Sang-Hyuk yang merupakan temannya sejak kecil dan telah lama mencintai Yoo-jin.
Mengetahui Sang-hyuk yang dicurigainya sebagai saudara tirinya telah lama mencintai Yoo-jin, Joon-sang semakin mendekati Yoo-jin agar menimbulkan rasa cemburu pada Sang-hyuk yang telah dibencinya. Namun kedekatan antara Joon-sang dan Yoo-jin akhirnya berubah menjadi cinta yang sesungguhnya sampai suatu saat Joon-sang mengalami suatu kecelakaan dan sejak saat itu Joon-sang tidak diketahui lagi keberadaannya dan telah dianggap mati. Sepeninggal Joon-sang, Yoo-jin menjadi patah hati dan selalu murung. Sang-hyuk selalu menemani Yoo-jin dan seiring waktu berjalan dengan segala perhatian dan cinta yang Sang-hyuk berikan, akhirnya Yoo-jin pun menerima cinta Sang-hyuk dan mereka siap untuk bertunangan. Namun tepat pada hari pertunangan mereka sepulang dari salon tanpa sengaja Yoo-jin bertemu dengan seorang pria yang sangat mirip dengan Joon-sang, sehingga membuat Yoo-jin terpana dan lupa dengan acara pertunangannya.
Pria tersebut ternyata bernama Lee Ming-hyeong, seorang pria berkacamata yang murah senyum dan sangat ramah. Ia adalah teman dekat Oh Chae-lim, teman SMU Yoo-jin yang juga merupakan saingannya dalam merebut cinta Joon-sang.
Yoo-jin pun tidak bisa berbuat apa-apa kalau tiap hari ia harus bertemu dengan Ming-hyeong karena mereka merupakan rekan kerja. Kebersamaan mereka membuat Ming-hyeong mengetahui tentang masa lalu Yoo-jin yang tanpa sengaja diketahuinya Yoo-jin sering meneteskan airmata saat memandangnya karena wajahnya yang mirip dengan kekasihnya yang sekarang sudah tidak ada lagi. Kedekatan mereka kembali menimbulkan rasa cinta, namun selalu dihalangi oleh Sang-hyuk dan Chae-lim.
Menjelang akhir cerita diketahui ternyata Ming-hyeong adalah memang Joon-sang yang selama ini telah lupa tentang masa lalunya akibat kecelakaan sebelumnya dan ibunya Joon-sang memang sengaja menyembunyikan semuanya karena ia tidak mau Joon-sang/Ming-hyeong diketahui sebagai anak yang lahir diluar nikah, yang ternyata ayah kandungnya adalah memang ayah Sang-hyuk. Sang-hyuk yang menyadari bahwa Yoo-jin tidak akan pernah mencintainya karena hatinya hanya untuk Joon-sang, kakak tirinya memohon kepada Joon-sang agar tidak meninggalkan Yoo-jin.
Joon-sang/Ming-hyeong kembali mengalami kecelakaan yang sangat parah sehingga mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah diotaknya dan setelah menjalani operasi ia harus kehilangan kedua penglihatannya.
Dan saat kembali ke Korea ia kembali bertemu dengan Yoo-jin dan akhirnya mereka bersatu untuk selama-lamanya.

(My Memory adalah salah satu judul lagu dalam drama Winter Sonata n ini adalah lagu favoritku……ini liriknya…..)

“My Memory
moh doo gee uhk hae yoh geuh soon gahn
noon eul gahm euh myun
ah joo jahk eun eel doh boh ee neh yoh
You’re far away
dah deul soo up neun goh seh
sa rang hahn dah neun mahl doh
gee dah leen dah neun mahl doh
ha jee moht ha gohjung mahl mohl laht joh
geuh dehl ee luht geh
dah shee mahn nahl jool eun
sehng gahk joh cha moht het suht johah jik nuhl sa rang hae
ee jeh lah doh neh geh goh behk hahl kkeh
I want to love you forever
neut jee ahn aht dah myun
ee luht geh nah wah hahm kkeh
young won hee

Oh leht dohng ahn
geuh dehn nah ae gah seum ae
mahn eun shee gahn heul luh doh
ah joo muhl lee ee juh doh
sahl ah eet sut joh

jung mahl mohl laht joh
geuh dehl ee luht geh
dah shee mahn nahl jool eun sehng gahk joh cha
moht het suht joh

ah jik nuhl sa rang hae
ee jeh lah doh neh geh goh behk hahl kkeh
I want to love you forever
neut jee ahn aht dah myun
ee luht geh nah wah hahm kkeh
young won hee”