Idh@

“Cinta yang Terlambat” June 20, 2008

Filed under: Novel — ida @ 2:15 am

Pengarang : Dr. Ikram Abidi

“Sebagian orang berdoa
agar menikah dengan laki-laki yang mereka cintai
Doaku sedikit berbeda :
Aku dengan rendah hati memohon kepada Tuhan
agar aku mencintai laki-laki yang aku nikahi”

p

Aariz Ali adalah seorang pemuda Pakistan yang tampan, kaya dan terdidik. Ia sedang jatuh cinta pada seorang gadis bernama Komal, yaitu seorang gadis yang cantik, pintar, modern dan berasal dari keluarga pengusaha yang kaya pula. Aariz sangat terobsesi untuk menjadikannya istri. Namun sayangnya, Komal berasal dari mazhab yang berbeda sehingga hubungan mereka ditentang keras oleh ibu Aariz.
Untuk itu ibunda Aariz memaksa anaknya menikah dengan seorang gadis kenalan keluarganya, bernama Zeest Zehra. Walaupun Zeest merupakan gadis desa yang lugu dan piatu sejak kecil tapi ia cerdas dan terpelajar serta sangat cantik, tapi menutupi kecantikkannya dengan Hijab.
Pernikahan pun terlaksana, walaupun begitu Aariz tidak pernah menganggap Zeest sebagai istrinya. Hubungan Aariz dan Komal tetap berlanjut. Perkawinan mereka bener-bener sangat menyiksa Zeest lahir batin, namun atas penghormatan terakhirnya kepada almarhum ayahnya, dia tetap menjadi seorang istri yang taat dan patuh. Setiap hari hanya kegilaan dan kebencian yang suaminya berikan sepanjang hidup dengannya, bahkan mereka tidak pernah berhubungan suami istri sebagaimana layaknya pasangan yang lain.
Tapi Zeest terus bersabar, bahkan saat Aariz menuntut untuk menikah dengan Komal, Zeest pun merelakan, dan berjanji akan membantu memintakan restu dari Ibu Aariz,
p
“Sebagai balasan, aku hanya memutuhkan satu hal,” Zeest menambahkan.
“Apakah itu?” tanya Aariz
“Kamu tidak menceraikanku.” lanjut Zeest.
“Aku tidak ingin memutuskan namaku dari namamu, yang aku butuhkan, aku inginkan, hanyalah …namamu, dibubuhkan pada namaku.”
“Aku akan meninggalkan rumahmu, dan aku jamin, bahwa aku tidak akan pernah kembali lagi dalam kehidupanmu yang bahagia, sungguh, kau dan istrimu tidak akan bertemu lagi denganku, tapi jangan ceraikan aku, tolonglah..”

p

Sejak itu Zeest pergi meninggalkan Aariz. Dankarena peristiwa tertentu Komal yang cemburu juga meninggalkan Aariz dan tidak pernah kembali. Keadaan ini membuat Aariz menderita tekanan batin, padahal ia juga baru saja kehilangan kedua orang tuanya dalam suatu musibah.
Karena stress Aariz masuk rumah sakit jiwa. Dua tahun direhabilitasi sampai sembuh total. Dan itu tidak lepas dari jasa seorang laki-laki yang amat dihormatinya, Paman Maulana.
Setelah sembuh, ia menyadari bahwa gadis yang paling cocok dan didambakannya adalah zeest, gadis desa yang dipilihkan ibunya untuknya. Gadis tabah, suci dan siap memberikan cinta sepenuhnya kepadanya. Namun dimanakah Aariz harus mencarinya? Bukankah ia sendiri yang telah mengusirnya 2 tahun yang lalu?

)))p

“Ada banyak bintang di langit, hanya beberapa yang cukup terang untuk bisa dilihat. Di antara bintang yang kamu abaikan itu adalah sebuah bintang yang siap untuk menyinarimu selamanya, meski pandanganmu tetap ke tempat lain”
p

“Suatu masa akan datang kala kita harus berhenti mencintai seseorang bukan karena orang itu telah berhenti mencintai kita tetapi karena kita telah mengetahui bahwa mereka akan lebih bahagia bila kita lepaskan”

 

GEMA June 18, 2008

Filed under: Renungan — ida @ 2:39 am

Seorang anak kecil dan ayahnya sedang berjalan di sebuah gunung. Tiba-tiba anak itu tergelincir dan menjerit, ”Aaaaahhh!!!” Betapa kagetnya ia ketika mendengar ada suara dari balik gunung, ”Aaaaahhh!!!”.

Dengan penuh rasa ingin tahu, ia berteriak, ”Hai siapa kau?” Ia mendengar lagi suara dari balik gunung, ”Hai siapa kau?”

Ia merasa dipermainkan dan dengan marah berteriak lagi, ”Kau pengecut…!!” Sekali lagi dari balik gunung terdengar suara, ”Kau pengecut…!!”

Ia lalu menengok ke ayahnya da bertanya ”Ayah, sebenarnya apa yang terjadi?”

Ayahnya tersenyum dan berkata, ”Anakku, mari perhatikan ini.”

Kemudian ia berteriak sekuat tenaga pada gunung,

”Aku mengagumimu..!!”

Dan suara itu menjawab,

”Aku mengagumimu..!!”

Sekali lagi ayahnya berteriak,

”Kau adalah sang juara…!!”

Suara itu pun menjawab lagi

”Kau adalah sang juara…!!”

Anak itu merasa terheran-heran, tapi masih juga belum memahami. Kemudian ayahnya menjelaskan :

”Nak, orang-orang menyebutnya GEMA, tetapi sesungguhnya inilah yang dimaksud dengan hidup itu. Ia akan mengembalikan padamu apa saja yang kamu lakukan dan katakan. Hidup kita ini hanyalah refleksi dari tindakan kita. Bila kau ingin mendapatkan lebih banyak cinta kasih di dunia ini, maka berikanlah cinta kasih dari hatimu. Bila kau ingin mendapatkan kebaikan dari orang lain, maka berikanlah kebaikan dari dirimu. Hal ini berlaku pada apa saja dan pada semua aspek dalam hidup. Hidup akan memberikan apa yang telah kamu berikan padanya. Maka, sebenarnya hidup ini bukan suatu kebetulan. Hidup adalah pantulan dari dirimu, gema dirimu”

(dikutip dari majalah Paras, 07/05)

 

ONLY TIME June 18, 2008

Filed under: Lagu — ida @ 2:11 am

p(By : Enya)

p

Who can say, where the road goes

where the day flows, only time

And who can say, if your love grows

as your heart chose, only time

p

Who can say, why your heart sighs

as your love flies, only time

And who can say, why your heart cries

when your love lies, only time

p

Who can say, when the roads meet

that love might be, in your heart

And who can say, when the day sleeps

if the night keeps, all your heart

Night keeps all your heart

P

Who can say, if your love grows

as your heart chose, only time

And who can say, where the road goes

where the day flows, only time

p

Who knows - only time

Who knows - only time

 

Senandung Jiwa June 17, 2008

Filed under: Puisi — ida @ 1:06 am

Dikedalaman jiwaku ada
Nyanyian tanpa kata – Nyanyian yang hidup
Dalam benih-benih hatiku
Ia menolak bersatu dengan tinta di perkamen
Ia menolak bersatu dengan tinta di perkamen
Ia mendangkalkan simpatiku
Pada sebuah jubah dan mengalir
Tapi tidak dibibirku

Bagaimana aku melihatnya?
Aku takut ia akan bercampur dengan ether dunia
Kepada siapa ia kunyanyikan?
Ia bersarang dirumah jiwaku, dalam ketakutan
Kepada telinga pemarah

Ketika kutatap mata batinku
Aku melihat bayangan dari bayangannya
Ketika kusentuh jemariku
Aku merasakan getarannya

Tindakan tanganku mengikuti
Kehadirannya seperti danau memantulkan
Kemerlip bintang-bintang ; air mataku
Menyingkapnya, secemerlang embun
Mengungkap rahasia mawar

Inilah senandung gubahan dalam renung
Dihias oleh kesunyian
Dilupakan oleh kenangan
Dilumatkan oleh kebenaran
Ditirukan oleh impian
Dipahami oleh cinta
Disembunyikan oleh kesadaran
Dan dinyanyikan oleh jiwa

Inilah senandung cinta
Apakah Kain atau Esau
Dapat mendendangkannya?

Ia lebih semerbak dari melati
Suara apa yang dapat mewadahi?
Ia tersembunyi seperti rahasia perawan
Dawai apa yang dapat menggetarkannya?

Siapa berani memadu raungan samudra
Dan dendang lubuk malam?
Siapa berani membandingkan prahara
Dengan desah seorang bayi?
Siapa berani meneriakkan
Kehendak hasrat hati?
Manusia mana yang berani menyanyikan
Lagu Senandung Tuhan?
p

(Kahlil Gibran, Lukisan Keabadian)

 

Derap-Derap Tasbih June 17, 2008

Filed under: Novel — ida @ 1:04 am

Pengarang : Hadi S. Khuli

Cinta adalah anugerah terindah dari Sang Ilahi. Sebagai muslim atau muslimah, sewajibnya mensyukuri anugerah cinta dengan cara-cara elegan, cantik, dan beriman. Sayang, Wardah, putri kiai pengasuh pesantren kesohor kealimannya, gagal mengelola gelegar cintanya pada Fatih, santri pengarang kreatif dan sekaligus anak asuh keluarga kiai tersebut. Bahkan, dengan emosi membara, Wardah berjuang untuk membuktikan pada Fatih bahwa tak sepatutnya Fatih menolak cintanya karena ia putri kiai besar, cantik dan berpengaruh. Sayang, Wardah kebablasan. Ia terjerembab ke jurang kelam penuh duri maksiat. Dan, siapakah yang mampu menyembunyikan aroma-aroma bau? Peristiwa buruk yang dialami Wardah membuat Fatih merasa sangat bersalah pada kiai yang amat dicintai dan dihormatinya. Tapi, sang kiai menolak untuk menikahkan Wardah dengan Fatih karena janin di rahim Wardah bukanlah anak Fatih. Kata sang kiai,Setiap orang berhak mencintai dan dicintai bukan karena keterpaksaan atau belas kasihan, tapi keikhlasan.

Dan Dian, semenjak bertemu dengan Fatih, tepatnya ketika pertama kali ia membaca novelnya, lalu secara kebetulan bertemu dan merawatnya, ada yang bergejolak dalam hati Dian. Entah apa. Yang dapat ia rasakan adalah getaran yang membuat seluruh persendian dan syarafnya tidak bisa lepas dari sosok Fatih. Dian sebenarnya tidak ingin cinta yang lain, tetapi cinta yang ia rasakan ini seakan memang telah memilihnya untuk menanggung semua akibatnya, walaupun Dian sendiri tidak berdaya menghadapi semua ini. Benarkah ini cinta sejati? Cinta sejati yang selalu membuahkan keberanian untuk bertindak, berkata dan juga berniat.

Sebuah tasbih adalah sebuah kehidupan. Berawal dan berakhir di titik yang sama. Bukan tasbih namanya, jika hanya terdiri dari satu butir. Bukan kehidupan namanya jika hanya satu dimensi. Kehidupan akan sempurna dan indah bila telah melewati serangkaian untaian butiran suka, duka, derita, bahagia, gembira, gagal, sukses, pasang, surut. Dan untuk melewati semua itu, dibutuhkan keberanian, kesabaran, kekuatan, dan perjuangan untuk terus meniti, berjalan, mendaki. Sebab, seperti tasbih yang melingkar, kehidupan pun demikian. Ke mana pun akan pergi dan berlari, tetap masih dalam lingkaran takdir Allah. Dari-Nya, kehidupan dimulai dan kepada-Nya akan berakhir.

Dengan hati yang dipenuhi cinta dan kedamaian, Dian meraih tasbih pemberian Fatih dan diciumnya dengan hati yang sepenuh-penuhnya serta berbisik; ”Tasbih, jadilah saksi cintaku”

p

Rabbi….

Jika cintaku Kau ciptakan untuk dia

Tabahkan hatinyaTeguhkan imannyaSucikan cintanyaLembutkan rindunya

Rabbi….

Jika hatiku Kau ciptakan untuk dia

Penuhi hatinya dengan Kasih-Mu

Terangi langkahnya dengan Nur-Mu

Bisikkan kedamaian dalam kegalauan

Temani dia dalam kesepian

Rabbi….

Kutitipkan cintaku pada-Mu untuknya

Resapkan rinduku pada rindunya

Mekarkan cintaku dan hidupnya

Dalam cinta-Mu

Sebab, sungguh aku mencintainya karena-MU

 

Dunia Tanpa Warna May 22, 2008

Filed under: Novel — ida @ 1:18 am

Pengarang : Mira W

Sepuluh tahun menikah, rahim Nidia tetap kosong. Segala cara telah ditempuh. Namun bayi yang didambakannya belum datang juga. Suaminya rela dia menjalani inseminasi buatan. Tapi Nidia tidak setuju dan memilih adopsi.

Bayi pertama yang mereka inginkan, telah diambil pasangan lain.

Bayi kedua hampir menyeret mereka ke pengadilan, karena ibu kandung bayi itu kembali menggugat anaknya.

Bayi yang ketiga, Mutia, tak pernah mengharapkan apa-apa. Karena sejak lahir dia telah ditakdirkan hidup tersisih dalam dunianya yang gelap. Dirumah Nidia, Mutia telah menentukan dunianya yang baru. Dunia Tanpa Warna, tapi penuh dengan kehangatan dan kasih sayang. Kehadiran Mutia membuka kehangatan dalam tawa riang Nidia yang sedang kegelian menyaksikan ulah Mutia yang lucu. Karena buta atau tidak, dia tetap selucu dan selincah anak-anak lain.

DUNIA TANPA WARNA

Satu dari tujuh novelet Mira W. yang dikemas dalam Kumpulan Novelet

 

Ultah Pernikahan ke-2 May 14, 2008

Filed under: Uncategorized — ida @ 5:22 am

Alhamdulillah Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim……hari ini tidak terasa 2 tahun sudah usia pernikahan kami, semoga kami akan selalu bersama dalam suka dan duka, setia dalam setiap langkah yang kami jalani.

Ya Allah……berikanlah kami hati yang selalu sabar dan tabah, serta naungkanlah kami selalu dengan ridho dan hidayah-Mu.

Ya Allah……terima kasih atas segala nikmat-Mu yang membuat kami selalu bersyukur atas keangungan-Mu, serta cobaan-Mu yang membuat kami semakin kuat dalam mengarungi lautan kehidupan ini.

Ya Allah……terima kasih juga atas anugerah terindah-Mu menitipkan seorang ”pangeran kecil” yang selalu menghiasi hari-hari kami.

Ya Allah……..semoga kebahagiaan ini selalu abadi……

 

Anakku Mutiaraku February 25, 2008

Filed under: My Baby — ida @ 4:44 am

gambar005.jpgTepat pada hari senin tanggal 26 pebruari 2007 (8 Safar 1428 Hijriah) jam 10.12 Wita di Rumah Sakit Umum Ulin Banjarmasin kau lahir menatap dunia ini.

Raihan Noor Muttaqin

Kau adalah Rahmat dan sekaligus titipan Allah untuk abah dan mamamu. Kau mengubah kehidupan kami menjadi lebih berarti dan memberikan sentuhan yang berbeda. Terima kasih Allah….Engkau telah memberikan titipan-Mu kepada kami yang merupakan anugerah yang sangat agung dan nikmat yang sangat besar sekaligus ujian juga bagi kita.
raihan-mandi.jpgSayang….hari demi hari telah kau lalui hingga tak terasa usiamu sekarang sudah menginjak satu tahun. Dan tak ada kebahagiaan yang paling bermakna ketika kami menyaksikan perkembanganmu dari detik ke detik. Dulu kau hanya mampu menangis, akan tetapi sekarang kau telah belajar untuk mengenali orang-orang di sekitarmu, kau telah belajar berbicara, kau telah belajar berjalan. Kala menatap mata beningmu saat dalam pangkuan, kami begitu damai, amarah dan rasa letih pun langsung sirna. raihan-tiarap.jpgKadang kau pun melontarkan kata-kata atau teriakan yang lucu yang membuat orang tuamu tertawa akan kepolosan dan keluguanmu. Keberadaanmu dalam kehidupan kami juga banyak mengajarkan kepada kami tentang kasih sayang, kesabaran, kedamaian dan memaafkan. Saat merasakan pelukan hangat dan belaian lembutmu, kami benar-benar dapat merasakan cinta tulus yang mendamaikan jiwa. Segala polah dan tingkah lakumu dan kadang lagi rewel, kami berusaha menghadapinya lebih sabar. Dan inilah yang benar-benar mengajarkan pada kami arti sebuah kesabaran.
raihan-berkereta.jpgBesok, tak terasa sudah 1 tahun umur Raihan dan tepatnya sudah 1 tahun ia menjadi matahari yang menyinari keluarga kami.

SELAMAT ULANG TAHUN Sayang…….

Tidak ada yang bisa orangtuamu berikan kepadamu di hari ulang tahunmu ini, kecuali kasih sayang kami yang tulus kepadamu. Kecupan abah dan mama di keningmu sebagai ungkapan Selamat Ulang Tahun untukmu sayang.

Buah Hatiku…..Jadilah kau matahari yang selalu menerangi langkah kami, jadilah bunga yang selalu memberikanraihan-merangkak.jpg keharuman disetiap mimpi kami, jadilah cinta sejati yang selalu membuat warna indah dalam hari-hari kami, jadilah kau harapan yang selalu membuat jiwa kami semakin bermakna, jadilah kau masa depan yang berguna yang akan menjadi kebanggaan kami. Jangan pernah padam pelitaku, sambutlah hidup meski penuh tantangan dan tegarlah meski raihan-lg-makan.jpgpenuh cobaan. Orang tuamu tak akan pernah berhenti berdoa untukmu dan menyayangimu dengan segala cinta dan kehangatan.

Ya Rahman, ya Rahim….
Indahkan kehidupan kami dengan kesalehan anak kami, panjangkanlah usianya, sehatkan badannya, cerdaskan akalnya, indahkan akhlak dan agamanya, sejahterakan jiwa dan raganya, jadikanlah ia orang yang baik dan bertakwa, yang punya pandangan dan pendengaran dan taat pada-Mu.raihan-lg-bermain.jpg Gabungkanlah ia bersama orang-orang yang bertakwa kepada-Mu, yang mencintai Nabi-Mu, keluarganya yang suci dan sahabatnya yang mulia, yang membenci dan memusihi musuh-musuh-Mu, yang berbakti kepada orangtua dan bermanfaat bagi bangsa dan yang berkhidmat kepada sesama manusia.
Ya Allah…..jadikanlah ia menjadi orang yang selalu pandai bersyukur hanya pada-Mu.
Amin Ya Rabal Alamin….

 

Lapaz Cinta February 6, 2008

Filed under: Novel — ida @ 2:59 am

lapaz-cinta.jpeg

Pengarang   : Sinta Yudisia

Penerbit       : Mizan

Halaman       : 269 hal

Zen dan Seyla merupakan dua sejoli yang sangat serasi. Kecerdasan Seyla dan kedewasaan Zen menjadi jembatan bagaimana menemukan solusi. Namun tak jarang mereka pun berantem, berselisih, bertengkar seperti pasangan lainnya, tapi segala perbedaan dapat dijembatani dan segala pertengkaran dapat diatasi. Dan ketika keduanya merasa makin sepakat dan sehati, sebuah cincin melingkar di jari manis Seyla sebagai tanda kesungguhan hati Zen terhadapnya. Bagi Seyla, Zen adalah seorang sahabat, kakak dan orang yang paling istimewa di hatinya, selain mama dan kakak satu-satunya yang sangat menyayanginya.

Ketika Seyla menunaikan umrah di Makkah, ia pun selalu berdoa untuk kekasihnya. Namun sekembalinya ia di tanah air, harapan dan doanya di Raudhah Asy-Syarifah ternyata tak terkabulkan. Zen yang diharapkan menjadi suaminya kelak, lebih memilih Lila, yaitu seorang dokter, putri sahabat baik ibunya yang banyak membantu dan merawat ketika ibunya sakit dan zen pun tak sanggup untuk menolak keinginan ibunya. Kenyataan ini membuat hati Seyla hancur berkeping-keping. Seyla tak cukup hanya meratap dan menangis, ia marah besar yang merasa telah dibohongi dan dikhianati Zen. Ia pun marah pada Lila yang dianggapnya telah merebut pacarnya.

Demi menata kembali hatinya, Seyla pun memutuskan hijrah ke kota Groningen. Di kota yang jauh lebih modern inilah, Seyla menemukan bermacam cinta dalam berbagai rupa. Hingga Seyla terseret arus pesona seorang pangeran bermata teduh bernama Karl Van Veldhuisen. Namun kenyataan pahit kembali menghadang cinta Seyla, Karl ternyata telah bertunangan dengan Constance Martina du Barry.

Dengan berbagai macam perjalanan dan hari-hari yang dilaluinya, akhirnya Seyla pun semakin mengerti bahwa ia tidak akan mungkin menjalin hubungan dengan seorang pangeran Belanda yang hidupnya telah diatur oleh kerajaan dan dia pun akan menikah dengan putri Martina. Dan saat Seyla menunaikan ibadah haji, ia semakin yakin tentang hatinya yang suatu saat akan menemukan kebahagiaan. Bahkan rasa kehilangan dan kebenciannya pada Zen dan Lila pun tak pernah tertanam lagi dihatinya dan ia pun berdoa untuk kebahagiaan mereka.

 

Sujudku….. January 25, 2008

Filed under: Puisi — ida @ 1:08 am

Telah ku kumpulkan puing-puing malam
Dalam setiap kataku
Dalam setiap langkahku
Berbaur dan menyatu

Ingin ku kuak kelam dengan nyala
Menyibak pekat melekat
Mengurangi untaian bunga duka
Yang bertahta dalam hati

Telah ku telusuri serpihan-serpihan hati
Dalam bayang diriku
Dalam payung lorong hidupku
Untuk ku tebar di jalan laluku

Telah ku susun nafasku
Diatas tikar gelar sajadah
Meletakkan jiwa diatas sujudku
Menata desak menampak langkah
Menghapus pekat
Dengan tetes air mata yang bersimbah

Allahu Akbar
Kudekatkan diri pada-Mu
Tegakkan Iman di hati selalu
Mengabdi pada Illahi
Yang Maha Rahim